FOLLOW US :        
 
07 November 2017
LIVING BOOK, BUKU SEBAGAI NUTRISI JIWA

Ada banyak banget pilihan buku untuk Superkids di jaman now. Tapi, mana ya yang bener-bener bagus untuk dibaca? Living book jawabannya. Di Indonesia, living book diartikan sebagai pustaka hidup oleh komunitas Charlotte Mason Indonesia. Istilah living book memang merujuk pada sosok seorang pendidik asal Inggris bernama Charlotte Mason. Ia menamai buku-buku yang dianggapnya bermutu dengan sebutan living book.

 

Nah, buku kayak apa sih yang termasuk living book itu? Pustaka hidup biasanya ditulis oleh orang yang punya passion tehadap apa yang dia tulis. Gaya menulisnya naratif alias bertutur, santai seperti percakapan sehari-hari. Living book ditulis dengan jiwa dan akan menarik pembacanya masuk ke dalam konten buku, terlibat secara emosional. Makanya, gampang banget mengingat kembali isi buku itu, meski sudah dibaca bertahun-tahun lalu. Living book membuat apa yang ditulis terasa hidup, jauh berbeda dari gaya penulisan yang garing membosankan, seperti dalam kebanyakan buku pelajaran dan ensiklopedia.

 

Living book bisa dikenali dari kalimat-kalimatnya yang baik, walau tidak harus lebay berbunga-bunga. Kalau ini jenis buku bergambar alias picture book, ilustrasinya tentu juga sangat baik dan berkarakter karena dikerjakan secara sungguh-sungguh seperti naskahnya. Tidak sekadar bergambar, tidak asal penuh warna. Bila buku ini membahas tentang nilai dan moral, penulisnya nggak akan menggurui atau mendikte pembaca. Ia justru membiarkan para pembaca (ya, termasuk yang masih usia sekolah seperti Superkids!) mengartikan dan membuat kesimpulan sendiri.

 

Paling gampangnya begini. Living book ditulis dengan pemikiran bahwa seorang anak pasti cerdas. Jadi, penulisnya nggak pernah meremehkan kecerdasan itu dengan hanya menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang ‘gampang dicerna’. Nggak heran kalau bacaan anak yang tergolong living book, selalu bisa membuat Superparent ikut terpesona.

 

Buku ini mengandung ide-ide yang hidup. Begitu hidupnya, sampai si pembaca nggak bisa berhenti memikirkan idenya saat buku habis dibaca. Dia tergerak untuk melakukan sesuatu karena terinspirasi dari apa yang dibaca.

 

Charlotte menganggap living book sangat penting karena mengibaratkannya sebagai nutrisi atau gizi untuk pikiran anak. Kebalikan dari buku-buku yang ia lebeli twaddle book. Yaitu buku-buku yang dangkal dan garing. Isinya nggak membangun karakter pembaca. Buku macam ini biasanya dibuat hanya demi kepentingan komersil-pragmatis si penulis maupun penerbit. Setitik ide dibahas bertele-tele sampai berlembar-lembar halaman. Bahasanya pun berbeda dari penulis yang menulis dengan hati dan jiwa.

 

Mau contoh buku yang tergolong living book? Coba deh sekali-sekali baca cerita orisinil dongeng klasik Winnie the Pooh (AA Milne), Little Mermaid (HC Andersen), Peter Pan (James M Barrie), dan Pinnochio (Carlo Collodi). Bandingin dengan versi rombakan yang ditulis ulang di sana-sini. Superkids bakalan tahu bedanya twaddle dengan living book.

 

HAFIDA INDRAWATI

FOTO: ISTOCK