FOLLOW US :        
 
12 Agustus 2017
GUK GUK GUK! NAK, AWAS DIGIGIT ANJING!

Beberapa hari lalu, ada kabar memilukan dari kota Malang. Seorang anak perempuan usia sekolah seperti Superkids meninggal akibat digigit anjing pit bull peliharaan ayahnya. Gadis cilik itu meninggal di tempat, dengan luka parah di bagian kepala. Peristiwa ini membuat banyak Superparent jadi lebih hati-hati dengan hewan peliharaan di rumah. Meski yang dirawat adalah hewan jinak, mereka tetap bisa berbahaya. Berikut ini tips aman memelihara hewan bersama anak, yang perlu Superparent tahu.

 

Saat berniat mengadopsi seekor hewan peliharaan di rumah, pastikan Superkids tahu bagaimana cara meminimalisir kemungkinan dia bisa digigit atau dicakar. Seringnya sih, anak berisiko diserang kalau dia godain, gangguin, nyakitin, atau bermain yang terlalu kasar dengan hewan. Anjing bakalan ngamuk untuk melindungi dirinya, wilayahnya, ataupun makanannya. Jarang sekali kejadian seekor anjing peliharaan menyerang secara agresif, kalau nggak diprovokasi duluan.

 

Bila Superkids digigit hewan peliharaan di rumah maupun lainnya, jangan sepelekan luka yang ada sekecil apapun itu. Infeksi lebih gampang terjadi gara-gara gigitan kucing daripada anjing. Meski begitu, luka bekas gigitan anjing bisa jadi lebih parah dan fatal. Maka, untuk lebih amannya, pastikan kucing maupun anjing peliharaan di rumah telah mendapatkan imunisasi lengkap. Ini penting buat melindungi orang serumah maupun si hewan itu sendiri.

 

Sekali digigit atau digongong keras-keras oleh seekor anjing, Superkids mungkin bisa mengalami trauma panjang. Ia menjadi takut pada semua anjing dan hewan lain. Nah, Superparent bisa menjelaskan bahwa hewan peliharaan di rumah itu pada dasarnya selalu bersikap baik. Tapi, seperti manusia, kadang juga dia bisa marah bila diganggu, merasa terancam, apalagi disiksa.

 

 

Ada baiknya bila anak yang masih ketakutan dan hewan peliharaan yang mengigigitnya, dipisahin dulu sementara. Anjing bisa berkeliaran di halaman belakang atau ruangan-ruangan tertentu di rumah, yang nggak dimasuki anak. Ini merupakan salah satu cara agar Superkids bisa lebih menenangkan diri dan belajar bagaimana bersikap yang baik terhadap hewan peliharaannya.

 

Mengganggu dan menganiaya hewan bukan cuma berbahaya dan bisa terancam masalah kriminal. Bisa jadi, ini sekaligus menunjukkan gejala bahwa Superkids punya masalah emosional yang harus disembuhkan. Misalnya, bila anak secara sengaja suka menjahili dan mengasari anjing dan kucing, sampai hewan peliharaan ini cidera dan ketakutan.

 

 

Solusinya, bicarakan baik-baik dengan Superkids untuk tidak menganiaya dan melukai hewan apapun lagi. Bila masih dilakukan, libatkan psikolog untuk membantu Superparent mendorong anak menjadi seorang penyayang hewan.

 

Menghindari Masalah dengan Hewan

Gimana caranya agar Superkids bisa melindungi diri sendiri dari serangan hewan kesayangannya maupun hewan lain? Berikut hal-hal yang perlu untuk dia tahu.

  • Jangan gangguin anjing atau kucing saat sedang tidur maupun makan.
  • Jangan mengganggu, mengasari, dan menganiaya hewan.
  • Hati-hati menyentuh anak anjing dan anak kucing, terutama yang baru lahir. Bila dilihat induknya, dia bisa sangat marah.
  • Kalau Superkids didekati anjing liar sebaiknya jangan lari. Itu sering kali bikin anjing justru bersikat agresif. Justru, Superkids sebaiknya menahan diri untuk membuat kontak mata, dan pelan-pelan berjalan menjauh. Yang gak kalah penting, hindari gerakan mendadak selama masih dalam penglihatan anjing. Gerakan tiba-tiba itu bisa disalahartikan olehnya sebagai sebuah ancaman besar.  
  • Bila Superkids lagi sepedaan dan tahu-tahu dikejar anjing, sebaiknya jangan mengayuh kencang-kencang. Anjing justru akan makin mengejar sampai dapat. Sebaliknya, Superkids mendingan berhenti dan turun dari sepeda. Sepeda itu bisa menjadi pembatas antara anak dan anjing. Tunggu aja, gak berapa lama, si anjing mungkin akan hilang rasa tertariknya pada 'target' yang diam nggak bergerak ini.

 

 

HAFIDA INDRAWATI

FOTO: ISTOCK