FOLLOW US :        
 
08 Desember 2017
5 Mitos Paling Hoax tentang Petir

Hujannya sih udah biasa. Tapi, petir yang menggelegar dengan kilat menyambar-nyambar, rasanya serem juga. Petir, kilat, atau halilintar adalah fenomena alam yang mempesona sekaligus berbahaya. Dia sering muncul saat musim hujan dengan kilatan cahaya menyilaukan, disusul suara keras yang mengagetkan.

 

Kenapa berbahaya? Petir ini mengandung enegi listrik yang besar. Sambarannya bisa sangat mematikan. Banyak mitos keliru tentang petir yang terlanjur menyebar di masyarakat. Berikut ini misalnya.

 

Mitos: Pakai baju merah rawan tersambar petir.

Fakta: Karena warnanya yang terang mencolok, baju merah (atau apapun yang lain berwarna merah) sering diyakini sebagai sasaran petir. Padahal, nggak ada hubungannya sama sekali. Baju adalah isolator (penghantar panas) yang buruk. Artinya, baju nggak akan memancing atau mempengaruhi daya listrik yang ada pada petir. Merah juga nggak ada urusannya sama petir. Petir nggak diskriminatif soal warna. Semua bisa jadi sasaran, bukan hanya warna merah. Kalau diseruduk banteng, iya.

 

Mitos: Aman berteduh di bawah pohon saat hujan.

Memang sih, pakaian dan badan bisa kering karena nggak kena tetesan air hujan. Tapi, jangan salah, bisa-bisa malah gosong! Petir cenderung menyambar obyek-obyek yang menjulang tinggi, seperti gedung pencakar langit dan pohon. Itulah kenapa, semua gedung dibangun dengan dilengkapi pelindung petir. Bagaimana dengan pohon tinggi? Karena muatan listrik pada awan petir memang nggak stabil, petir mencari dan menyambar benda yang terdekat dengan awan petir untuk menstabilkan. Misalnya pohon tinggi, sebelum mengalirkan arus listrik ke dalam tanah. Jadi, gak disaranin berteduh di bawah pohon tinggi karena ini justru penyebab kedua terbanyak korban sambaran petir.

 

Mitos: Petir hanya akan menyambar sebuah tempat satu kali, nggak bakal terulang.

Fakta: Petir bisa menyerang tempat yang sama berulang-ulang, apalagi kalau tempat itu tinggi, bentuknya lancip, atau terisolasi. NASA udah melakukan sebuah penelitian tentang ini pada 2003. Hasilnya, sama sekali nggak benar. The Empire State Building, gedung 102 lantai setinggi 443,2 meter di New York City, terkena hampir 100 kali sengatan petir dalam setahun.

 

Mitos: Kita bakal ikut kesetrum kalau nolongin orang yang tersambar petir.

Fakta: Korban sambaran petir harus segera mendapatkan pertolongan, seperti bantuan pernafasan. Nggak benar bahwa tubuhnya masih mengandung arus listrik setelah tersambar petir. Sebab tubuh manusia nggak menyimpan listrik dari luar. Itu artinya, sangat aman menyentuh tubuh korban sengatan listrik yang butuh pertolongan darurat.

 

Mitos: Selama di dalam rumah, kita aman dari bahaya petir.

Fakta: Rumah atau bangunan memang tempat berlindung paling aman saat petir menyambar. Tapi, bukan berarti 100 persen aman. Sealama Superkids menjauhi apapun yang terhubung dengan arus listrik, kemungkinan besar masih aman. Jauhi kabel telepon (kalau perlu dicabut, kecuali handphone), kabel TV, komputer, pipa air, peralatan listrik, pintu besi, dan jendela. Menggunakan HP boleh-boleh aja, asal jangan sambil di-charge. Jendela termasuk spot berbahaya karena petir bisa masuk melalui celah-celah di sisi jendela, meski ini cukup jarang terjadi.

 

HAFIDA INDRAWATI

FOTO: ISTOCK