FOLLOW US :        
 
01 Desember 2017
COCO, TONTONAN ASYIK BUAT LONG WEEKEND

Film animasi “Coco” sukses besar. Membahas tentang kehidupan setelah kematian, nggak disangka-sangka, “Coco” bisa nangkring di puncak box office dunia. Buat yang belum tahu, box office itu istilah untuk film-film yang hasil pemutarannya melebihi biaya produksi, hanya dalam waktu beberapa hari. Layak banget buat ditonton di liburan akhir pekan ini!

 

 “Coco” ini udah mengantongi USD 49 juta, padahal belum juga seminggu tayang di bioskop. Angkanya menggusur penghasilan “Justice League”, yang pekan lalu menjadi juara box office dengan income USD 40,7 juta. Artinya, lebih laku “Coco” dibanding “Justice League”, yang sebelumnya diyakini bakal jadi film terlaris.

 

“Coco” adalah film keluaran Pixar Animation Studio, hasil kerja bareng Disney. Nonton “Inside Out” dua tahun lalu? Itu juga salah satu karya terbaik Pixar. Rumah produksi ini dikenal punya satu kelemahan, yaitu jarang bingits ngekuarin sekuel. Jadi, jangan terlalu berharap bakal ada lanjutan dari film-film yang dibuat. “The Incredibles” yang sukses besar 13 tahun lalu aja, baru mau diluncurin sekuelnya tahun depan.

 

Apa sih kelebihan “Coco” sampai bisa untung besar dan merajai box office

1. Memotivasi. Film ini mengisahkan perjalanan panjang Miguel mewujudkan cita-cita menjadi penyanyi. Miguel, anak laki-laki usia 12 tahun, pingin sukses seperti musisi idolanya, Ernesto de la Cruz. Yang jadi masalah, keluarganya justru benci banget sama musik. Itu gara-gara hidup nenek buyut Miguel yang bernama Coco, berantakan karena musik. Ayah Coco juga seorang musician wanna be. Dia tega meninggalkan keluarga demi mengejar impian, membiarkan Coco dan ibunya hidup susah. Namun, tekad kuat Miguel membuatnya berhasil menemukan jalan untuk sukses, tanpa melukai hati keluarganya. Inget, where there is a will there is a way!

 

2. Mengenal Budaya Meksiko. Bisa jadi, ini film animasi terbaik dan tersukses tentang budaya Meksiko. Lewat “Coco”, jutaan Superkids di seluruh dunia jadi tahu mengenai tradisi Dia de los Muertos (Perayaan Hari Kematian). Inilah momen saat orang-orang Meksiko mendapat kesempatan menunjukkan rasa hormat pada keluarga yang sudah meninggal. Dia de los Muertos sekaligus merupakan cara mereka mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama keluarga tercinta. Dalam film ini, Miguel dikisahkan tersesat di Dunia Kematian (Land of the Dead) karena ketahuan mencuri gitar idolanya. Di situlah petualangan serunya mengenal kehidupan dan kematian dimulai.

 

3. Visual Superkeren. Film-film Pixar memang dikenal paling bisa menghadirkan perpaduan gambar dan warna yang hidup. Coba deh nonton “Cars” (2003) yang menggabungkan gemerlap dan keriuhan arena balap mobil dengan suasana kehidupan pedesaan yang sederhana. Begitu juga dalam film “Coco”. Land of Death dan Land of Living (Dunia Kehidupan) menyatu dalam gambar-gambar menarik yang menyegarkan mata. Jangan bayangin Dunia Kematian yang kelabu dan seram. Dalam “Coco”, kehidupan di sana sangat penuh warna.

 

4. Ear-worming Soundtrack. Selesai menonton film ini, Superkids bakalan terus terngiang-ngiang soundtrack-nya yang riang. Lagu-lagu akustik itu dimainkan oleh mereka yang berasal dari Dunia Kematian. Antara lain “Remember Me” garapan Robert Lopez dan Kristen Anderson-Lopez, komposer film “Frozen” yang meraih piala Oscar. “Remember me, though i have to say goodbye. Remember me, don't let it make you cry. For even if i'm far away. i hold you in my heart. I sing a secret song to you each night we are apart..”

 

HAFIDA INDRAWATI

FOTO: PIXAR