22 Nov 2017

It’s a Bird… It’s a Plane… It’s a Drone!

Dulu, alat ini cuma dikenal di kalangan militer. Drone alias pesawat tanpa awak awalnya memang hanya digunakan untuk misi pengintaian saat perang. Pesawat diterbangin jauh dan dikendalikan pakai remote control agar bisa memata-matai pergerakan musuh. Sekarang sih udah lain. Di era digital, drone juga banyak digunakan masyarakat sipil. Pernah nonton siaran televisi yang menayangkan pantauan kemacetan lalu lintas dari udara? Atau, sebuah film yang gambarnya diambil dari ketinggian dan bergerak cepat merekam suasana di sekitarnya? Itu pasti diambil menggunakan drone.

 

Belakangan, teknologi drone makin digemari masyarakat luas. Bukan lagi untuk kepentingan pekerjaan sebagai jurnalis TV atau filmaker saja, melainkan hobi fotografi. Alat ini sangat membantu para penggemar fotografi mendapatkan obyek-obyek foto nan indah dari tempat yang susah dijangkau. Misalnya tebing tinggi yang curam, jurang yang dalam, atau area hutan yang banyak dihuni binatang buas. Bagaimana sebelum pakai drone? Para fotografer harus memanjat pohon (iya, serius!), naik ke rooftop gedung, bahkan menyewa helikopter. Ribet, melelahkan, dan nggak efisien, kan?

 

Begitu hebatnya bantuan drone pada kehidupan manusia, sampai-sampai ada drone yang didesain agar cukup dikendalikan melalui smartphone. Namanya Phone Drone. Teknologi ini dikembangkan sebuah perusahaan peraktir drone bernama X Craft. Begitu mudahnya digunakan, drone pun bakal bisa dipakai untuk sekadar mengawasi keadaan rumah saat ditinggalkan. Di masa depan, kelak saat Superkids tumbuh dewasa, bisa jadi drone bisa melakukan tugas-tugas lain yang lebih rumit. Bukan semata meringankan pekerjaan, tapi juga menyenangkan manusia, Termasuk membawa barang, bantuan navigasi, mengirim paket, mengawasi lahan pertanian, menabur pupuk pada tanaman di kebun, dan sebagainya.

 

Asal tahu aja, bentuk awal drone bukan seperti yang Superkids lihat sekarang. Sama sekali nggak kayak pesawat, melainkan hanya berupa balon. Balon-balon itu diterbangkan membawa bom oleh tentara Austria untuk menyerang Venesia pada Agustus 1849. Pesawat tanpa awak baru benar-benar digunakan saat perang dunia pertama. Saat itu drone udah dibekali berbagai perlengkapan, termasuk kamera untuk mengambil foto.

 

Drone memang alat unik. Ia bisa memotret gambar maupun merekam video dari ketinggian sampai 11.000 kaki. Drone terbang dibekali kamera DSLR dan dilengkapi GPS (global position system) agar dapat dimonitor posisinya. Harganya berkisar mulai Rp 1,6 juta sampai puluhan juta.

 

HAFIDA INDRAWATI

FOTO: GOOGLE