FOLLOW US :        
 
02 Agustus 2017
BATERAI NGE-DROP? MUNGKIN INI PENYEBABNYA

Baru juga satu jam dipakai, daya baterai gadget udah menipis minta di-recharge. Belum lagi kalau sering panas dan back case menggembung. Padahal, belinya pun belum enam bulanan. Kalau mengalami masalah kayak gini, belum tentu lho yang salah produknya. Bisa jadi, justru kebiasaan buruk Superkids yang akhirnya bikin baterai gadget cepat rusak. Cek deh beberapa kebiasaan buruk pemicu kerusakan baterai berikut ini. Mungkin salah satunya juga sering Superkids lakukan.

 

Dipakai saat Di-charge. Hayo, siapa yang suka nggak sabar nungguin daya baterai penuh untuk bisa dipakai lagi? Menggunakan smartphone saat sedang melakukan pengisian baterai adalah kebiasaan yang umum terjadi. Padahal, dampaknya sangat buruk untuk baterai maupun smartphone-nya sendiri. Ibaratnya begini. Seperti mobil yang habis dipakai berkendara seharian, mesinnya pun butuh istirahat untuk me-recharge kembali tenaga. Gadget juga gitu. Bila istirahatnya terganggu, dampaknya bakal terasa banget pada keawetan baterai. Kok bisa? Karena ada arus listrik yang masuk dan keluar secara bersamaan. Proses charging-nya itu sendiri menghasilkan panas, sementara menjalankan aplikasi juga membuat gadget bekerja keras dan menghasilkan panas. Bukan hanya nge-drop, baterai pun bisa meledak! Apalagi kalau dipakai untuk nge-game dan menonton video, dua kegiatan yang sangat menyerap daya baterai. 

 

Charge di Mobil.Sering manfaatin fasilitas output lighter di mobil papa-mama buat nge-charge baterai smartphone, juga bukan kebiasaan baik. Dampaknya bisa bikin baterai nggak awet alias nge-drop. Itu karena tegangan listrik yang dihasilkan dari mobil, kurang stabil disebabkan putaran mesin yang naik turun. Atau, bisa juga karena hidup-matinya sistem kelistrikan yang  menyalurkan arus listrik ke AC, audio dan juga lampu-lampu mobil pada waktu bersamaan.

 

Dibiarin Habis sampai 0%. Waktu awal-awalnya ada handphone, baterai yang dipakai masih berbahan nikel. Cara mengisi ulang dayanya adalah membiarkan sampai benar-benar habis dulu. Nah, cara ini ternyata keterusan sampai sekarang. Padahal, smartphone modern seperti yang Superkids pakai, beda. Bahannya bukan lagi nikel, melainkan ion litium (Li-ion atau LIB), yang justru bakal cepat rusak kalau diisi ulang dayanya dengan cara begitu. Makin sering Superkids biarin baterai habis sampai 0%, makin pendek juga usia baterai. Biar lebih awet, segera charge saat dayanya tersisa 20% lalu cabut saat terisi 90%. Jadi, sebelum benar-benar habis dan berhenti sebelum benar-benar penuh.

 

Pakai Charger Lain. Tiap smartphone punya daya baterai berbeda, begitu juga charger-nya. Charger original atau bawaan pabrik biasanya udah disesuaiin dengan kondisi gadget. Nah, kalau sering pinjem charger milik smartphone lain yang daya input maupun output-nya berbeda, baterai Superkids bisa rusak dong. Lebih parah lagi kalau pakai charger yang nggak orisinil. Biasanya charger seperti ini punya output voltase yang lebih tinggi. Makanya, waktu pengisian bisa cepat banget dibanding pakai charger bawaan. Padahal, itu salah satu cara yang bikin baterai smartphone cepat rusak.

 

Colok di Laptop. Sering nge-charge smartphone dengan USB komputer atau laptop pakai kabel data? Itu cara yang kurang baik untuk masa depan si baterai. Sama halnya dengan menggunakan steker listrik untuk mencolok charger. Biar baterai lebih tahan lama, Superkids sebaiknya menghubungkan charger langsung ke soket listrik aja. Arus listrik yang dikeluarkan dari port USB laptop nggak besar. Karena mengisi ulang dengan aliran listrik yang lemah, proses pengisian pun lebih lama. Selain itu, yang terancam rusak bukan cuma baterai smartphone. Melainkan juga baterai laptop.

 

Nge-Charge Semalaman. Kalau membiarkan baterai smartphone habis total itu buruk, mengisinya kelamaan sepanjang malam pun sama. Maksud hati kan begini. Ditinggal Superkids tidur, bangun-bangun udah penuh lagi baterainya. Memang sih sekarang ada charger yang bisa langsung otomatis memutus arus listrik, kalau dayanya udah terisi 100 persen. Tapi tetap saja membiarkan baterai selalu berada dalam kondisi 100 persen terisi, juga tidak baik. Dampaknya bakal sangat terasa pada keawetan baterai. Sebaiknya charge baterai berkali-kali sampai penuh daripada dicolok sepanjang malam sampai pagi.

 

HAFIDA INDRAWATI

FOTO: ISTOCK